P2HB Kemenhut Petakan Koridor Gajah Sumatera di KHDTK Benakat, Perkuat Upaya Konservasi dan Cegah Konflik Satwa-Manusia
Potretnusantara.com (PALI) – Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mempercepat langkah pelestarian gajah Sumatera dengan melakukan pemetaan koridor dan penelusuran jejak satwa di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Benakat, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2026 yang menekankan penguatan pengelolaan kawasan hutan dan konservasi keanekaragaman hayati. Pelaksanaan di lapangan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai instansi dan unsur masyarakat.
Tim gabungan terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah XII, akademisi Universitas Sriwijaya (Unsri), personel Koramil Pendopo, serta Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat.
Kepala Bidang 2 P2HB Kemenhut, Pratiara, S.Hut., M.Si., didampingi Tim Teknis KHDTK, Dr. Ignatius Adi Nugroho dan Dr. Farida Herry Susanty, menjelaskan bahwa KHDTK Benakat Blok 1 merupakan salah satu jalur alami yang masih digunakan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) untuk berpindah dari satu habitat ke habitat lainnya.
“Kami bersama tim gabungan dan masyarakat turun langsung ke lapangan untuk memastikan keberadaan koridor gajah Sumatera di KHDTK Benakat Blok 1. Selain itu, kami juga menyiapkan langkah-langkah kreatif melalui penanaman tanaman pakan gajah agar kebutuhan pakan satwa di sepanjang koridor tetap terpenuhi,” ujar Pratiara.
Hasil penelusuran lapangan menunjukkan adanya jejak dan tanda aktivitas yang diperkirakan berasal dari sedikitnya 17 individu gajah Sumatera. Temuan tersebut semakin menguatkan peran strategis KHDTK Benakat sebagai kawasan penting bagi konservasi satwa dilindungi tersebut.
Selain berfungsi sebagai jalur migrasi yang aman, kawasan ini juga direncanakan menjadi pusat penelitian dan pengembangan konservasi. Berbagai kajian ilmiah akan dilakukan, mulai dari penelitian ketersediaan pakan, pemetaan genetik, perilaku sosial gajah, hingga pola jelajah (home range) dan interaksinya dengan lingkungan.
Pengembangan berbasis penelitian diharapkan mampu menghasilkan data ilmiah yang menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Secara edukatif, koridor satwa merupakan jalur alami yang digunakan hewan liar untuk berpindah antarhabitat guna mencari makanan, air, maupun pasangan berkembang biak. Keberadaan koridor yang tetap terjaga sangat penting untuk mempertahankan populasi satwa sekaligus mengurangi potensi konflik antara manusia dan satwa liar akibat penyempitan habitat.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, aparat keamanan, dan masyarakat, upaya pelestarian gajah Sumatera di KHDTK Benakat diharapkan mampu menjaga keseimbangan ekosistem hutan, meningkatkan keberhasilan konservasi, serta menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan satwa liar di bentang alam Sumatera.(rilish)
